87% Anak Indonesia Sudah Bersosial Media Sejak Dini

0 0
Read Time:2 Minute, 36 Second

Jakarta, Selular. ID – Sekitar 87 upah anak-anak di Indonesia telah dikenalkan media sosial sebelum menginjak usia 13 tarikh. Bahkan sebanyak 92 obat jerih anak-anak dari rumah tangga berpenghasilan rendah mengenal media sosial lebih dini lagi.

Hal itu terungkap dari hasil penelitian Neurosensum Indonesia Consumers Tren 2021: Social Media Impact on Kids, dengan membabitkan 269 responden (52 komisi pria dan 48 komisi wanita) di 4 tanah air besar di Indonesia (Jakarta, Medan, Bandung, dan Surabaya).

“Secara sama, anak Indonesia mengenal media sosial di usia tujuh tahun. Dari 92 upah anak yang datang sejak keluarga berpenghasilan rendah, 54 persen diantaranya diperkenalkan ke media sosial sebelum itu berusia 6 tahun, ” ungkap Rajiv Lamba, CEO NeuroSensum & SurveySensum, Jumat (16/4).

Mengucapkan juga:   Pengamat: Insiden Terbakar Produk Y20, Sanggup Menganggu Kinerja Vivo dalam Indonesia

Nilai ini merupakan angka yang signifikan jika dibandingkan dengan famili berpenghasilan tinggi di mana hanya 34 tip yang menggunakan media sosial sebelum mereka mencapai leler yang pantas, dimana manusia besar media sosial seperti YouTube, Instagram, dan Facebook, menerapkan batas minimum usia pemakai 13 tahun.

“Penggunaan media sosial dalam rumah tangga berpenghasilan rendah dimulai saat anak berusia kira-kira 7 tahun, lebih depan dibandingkan dengan rumah nikah berpenghasilan menengah ke atas, yaitu 9 tahun. Biar belum memenuhi batas bawah usia akun media baik, para orangtua pada keputusannya memberikan akses media sosial agar anak sibuk & orangtua dapat fokus menjalankan pekerjaan mereka, ” sebutan Rajiv.

Tidak hanya usia, hasil riset NeuroSensum pula mengungkapkan adanya perbedaan durasi saat mengonsumsi konten media sosial diantara anak-anak lantaran keluarga berpenghasilan rendah & tinggi. Rajiv memaparkan, walaupun dimulai pada usia dengan sangat muda, anak-anak dalam rumah tangga berpenghasilan lembut menghabiskan lebih sedikit waktu di media sosial (2, 4 jam sehari) dipadankan teman seusia mereka pada rumah tangga berpenghasilan mulia yaitu 3, 3 tanda sehari).

Membaca juga:   Kominfo Siapkan Peraturan Menteri Untuk Blokir Sosial Media

Dan Sebagian besar anak-anak menghabiskan waktunya melakukan kegiatan online seperti, bemain game dan komunikasi online (masing-masing 65 persen), belajar dengan daring dan mempelajari keterampilan baru (masing-masing 48 persen), pembaharuan status di jalan sosial dan menonton film atau serial di platform online (masing-masing 42 persen), membuat video di Tik Tok atau platform gambar pendek lainnya (37 persen), serta membaca buku ataupun komik di internet (30 persen).

Salah satu sisi positif dari anak-anak yang bermedia sosial merupakan kemampuan mereka memproduksi semacam karya di usia dini. Terlebih lagi semasa pandemi, anak-anak tidak hanya mengonsumsi konten digital tetapi serupa semakin mahir memanfaatkan media sosial untuk membuat konten.

Baca juga:   Kominfo: RUU PDP Diusulkan Atur Batas Usia Anak ‘Main’ Medsos

Kendati demikian dalam riset ini juga menyebut, jika orang tua khawatir dengan paparan media sosial terhadap anaknya, dari hasil riset tersebut menunjukkan 81 persen orang tua curiga paparan pornografi mengenai anaknya.   Lalu perundungan (bullying) di dunia maya turut menjadi kekhawatiran 56 persen orang tua di Nusantara.

Hal tersebut menunjukkan bahwa dampak negatif media sosial secara psikologis lebih mengkhawatirkan dibandingkan dengan efek terhadap kesehatan wujud. Hal tersebut didukung dengan 98 persen pengampu dengan lebih khawatir terhadap tontonan negatif yang berdampak terhadap anak-anak mereka.

Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %
Previous post Tersebut Alasan Pengguna Smartphone di Indonesia Berpindah Operator
Next post Kakak & Olufsen Rilis Speaker Pintar Berbentuk Buku